KatongNews. Ambon-MA'HAD Al-Jami'ah Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Ambon menggelar Seminar Nasional. Seminar Nasional bertemakan
'Pemberdayaan Ma'had Al-Jami'ah dalam mewujudkan IAIN Ambon yang cerdas dan
berbudi', digelar di Audiotorium Lt III Gedung Rektorat IAIN Ambon, Rabu,
(4/12).
Seminar Nasional ini menghadirkan pembicara; Dr
(HC) Ir KH Salahudin Wahid (Gus Sholah), dengan materi 'Manajemen Pemberdayaan
Pesantren Mahasiswa', Rektor IAIN Ambon Dr Hasbollah Toisuta, M.Ag, dengan
materi 'Kondisi Lokal: Kompetensi Mahasiswa IAIN Ambon terhadap Ilmu Keislaman',
dan Mudir Ma'had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr H Isroqunnajah, M.Ag,
dengan materi 'Pengelolaan yang Sinergis antara Kampus dan Ma'had
Al-Jami'ah.
Rektor IAIN Ambon dalam materinya mengupas kilas
balik perjalanan IAIN Ambon sejak pertama didirikan hingga saat ini. Menurut
alumni pertama IAIN Ambon yang saat itu masih berstatus IAIN Alauddin Makassar,
berdirinya kampus IAIN Ambon tak terlepas dari perjuangan keras para tokoh
muslim di Maluku. Kegelisan panjang para tokoh Muslim di Maluku, akhirnya bisa
melahirkan kampus yang dulunya berafiliasi di bawah IAIN Alauddin Makassar (UIN
Makassar-sekarang). Menurut dia, IAIN Ambon mulai dirintis sebelum tahun 1982.
Hanya saja, dalam proses rintisan terjadi hambatan yang kemudian menunda
prosesnya sampai di tahun tersebut, baru ada kejelasan dengan dibentuk kelas
jauh Fillial Fakultas Syariah. Tak lama setelah itu, dibentuk lagi Filial
Fakultas Ushuluddin. Berjalan dengan dua fakultas di bawah payung IAIN Alauddin
Makassar. Hingga pada tahun 1997, kampus IAIN Ambon dimekar menjadi Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon. Tak lama berproses dengan nama STAIN
Ambon, dibuka kembali Fakultas Tarbiyah. Baru di masa kepemimpinan Dr M
Attamimi, tepat tahun 2006, kemudian terjadi perubahan status STAIN menjadi
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon hingga kini.
Menurut dia, melihat fenomena alumni IAIN Ambon,
maka pihak pimpinan bersepakat untuk membentuk Pesantren dengan maksud untuk
membina para mahasiswa yang tidak bisa membaca al-Quran. Baru setahun pesantren
kampus itu dibentuk, sudah ada hasilnya. Hasilnya bahkan cukup memuaskan, dan
menggembirakan. Hal ini menurut dia, dapat menjadi muara dan cikal bakal IAIN
Ambon menciptakan alumni dengan kemampuan ilmu baik keislaman maupun ilmu umum.
Banyak yang dikisahkan ketika Toisuta memaparkan materinya kemarin. Lebih
dalam, menurut dia, civitas akademika IAIN Ambon harus memberikan dukungan
penuhnya kepada Ma'had Al-Jami'ah untuk membina para mahasiswa. Sehingga,
kegelisahan masyarakat tentang kemampuan alumni IAIN Ambon untuk penguasaan
ilmu-ilmu agama dapat segera dijawab. "Keyakinan saya semakin bulat, bahwa
ke depan alumni IAIN Ambon sudah dapat membaca dan menghapal al-Quran dengan
baik. Tak hanya itu, mereka juga mampu membaca kitab kuning. Ini sungguh luar
biasa, karena baru setahun dibentuk, hasilnya sudah memuaskan," kesan
Toisuta.
Sementara Gus Sholah dalam materinya menandaskan,
untuk mengubah mainstrem berpikir mahasiswa agar dapat membangun kepercayaan
diri, maka dibutuhkan adanya pesantren yang fokus mengurus mereka. Karena, kata
dia, pesantran untuk menampung mahasiswa kini juga dilakukan oleh beberapa
negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Hongkong serta Jepang. Kata dia,
perguruan tinggi agama yang maju, harus memiliki pesantren. Karena di pesantren
itulah, mahasiswa akan digodok dan diajarkan soal pendidikan akhlak yang sesuai
dengan ajaran syariat. Ia mengakui, akhlak jujur, dan rasa tanggungjawab pada
seorang mahasiswa, sebenarnya tidak dapat dijumpai dari ajaran agama. Akhlak
baik mahasiswa selaku penerus bangsa harus dipelihara, dan dipupuk sehingga
menjadi kebiasaan. "Mahasiswa akan menjadi pemimpin. Pemimpin di
masyarakat, maupun pemimpin di lembaga-lembaga pemerintah. Ahklak dan budi
mahasiswa harus dipelihara, karena dia akan menjadi penerus bangsa. Semua
tergantung kepada sistem pendidikan yang dibangun kampusnya. Mudah-mudahan di
IAIN Ambon ini juga dapat mengarah ke sana. Masalah yang saat ini dihadapi
bangsa soal krisis moral. Untuk itu, IAIN Ambon harus siapkan tamatan yang memiliki
akhlak terbaik. Tidak hanya di IAIN, tapi semua perguruan tinggi harus
melahirkan mahasiswa yang berkarakter baik. Ternyata kejujuran itu soal
prilaku. Bukan soal Islam. Jujur dan tanggungjawab itu ada dalam diri
seseorang. Tinggal bagaimana dipupuk terus menerus saja," urai Gus Sholah,
dalam materinya.
Sementara Ketua Panitia Seminar Nasional, yang juga
Direktur Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ambon, Much Mu'alim, dalam laporannya
menandaskan, pelaksanaan Seminar Nasional ini sekaligus bagian dari sosialisasi
keberadaan Ma'had Al-Jami'ah di IAIN Ambon, plus kepada masyarakat luar. Lebih
dalamnya, Seminar Nasional ini sekaligus untuk mencari format baku terkait
pengembangannya ke depan. Ia mengakui, tak hanya di IAIN Ambon, tapi di seluruh
Indonesia usaha untuk mengubah sistem di Ma'had tidak semudah yang dibayangkan.
Untuk itulah, pada kegiatan ini telah dihadirkan beberapa pengelola Ma'had yang
maju di Indonesia, seperti Ma'had UIN Malang. Tentunya, untuk mengurus Ma'had
di IAIN Ambon harus diformat dengan budaya masyarakat di daerah ini.
"Mudah-mudahan format itu dapat segera dibentuk, sehingga Ma'had ini
memiliki metode formal yang disahkan oleh lembaga," harap dia. Soal Ma'had
yang sudah eksis di IAIN Ambon saat ini, kata dia, awalnya 25 mahasiswa yang
dibina sebagai instruktur. Dalam perjalanan, hanya 19 mahasiswa yang dapat
bertahan sesuai dengan etika yang berlaku di Ma'had itu. Dari kegiatan ini, ia
berharap agar semua kekurangan yang ada di Ma'had dapat diperhatikan oleh IAIN
Ambon, sehingga niatan untuk membina para mahasiswa dapat berjalan dengan
lancar, dan sesuai dengan endingnya. (Arif Rahman Hatapayo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar