KatongNews, Ambon - Setelah menggelar rangkaian kegiatan Festival Perdamaian memperingati 13 tahun kerusuhan Ambon di pelataran lapangan Merdeka dan Taman Gong Perdamaian di Kota Ambon kemarin, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina, Lembaga Antar Iman
Maluku (LAIM), dan Ambon Reconciliation and Mediation Centre (ARMC) IAIN Ambon
kembali menggelar pertemuan Rektor di Maluku, yang dilangsungkan di Aula Rektor
IAIN Ambon, Senin (20/1).
Pembahasan yang dikemas dalam bentuk Fokus Group
Discussion Rektor Pendidikan Perdamaian di Perguruan Tinggi, hasil kerjasama
ARMC IAIN Ambon, Lembaga Antar Iman, serta Pusat Studi Agama dan Demokrasi
Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta ini dipusatkan di Auditorium Lt III Gedung
Rektorat IAIN Ambon, Senin, 20 Januari 2014.
Diskusi ini menghadirkan Fasilitator Direktur
Yayasan Wakaf Paramadina Ihsan Ali Fauzi, mantan Ketua Prodi PPs Pusat Studi
Keamanan dan Perdamaian UGM Syamsul Rizal Panggabean, dan Jacky Manuputty.
Kegiatan yang berlangsung kurang lebih tiga jam,
menghadirkan Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Dr C A Alyona,
Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon Dr Hasbollah Toisuta,
Perwakilan Kepala Pusat Studi Agama dan Budaya STAKPN Dr Yance Amahoru,
perwakilan dosen dari Unpatti dan Unidar Ambon, serta para mahasiswa.
Direktur ARMC IAIN Ambon Dr Abidin Wakanno, di
sela-sela kegiatan ini menandaskan, para pimpinan perguruan tinggi perlu duduk
bersama untuk membahas metode perdamaian di Maluku. Seluruh elemen di perguruan
tinggi, kata dia, harus memikirkan visi pendidikan perdamaian yang baik dan
efisien di kampus-kampusnya. "Karena ini hal yang sangat penting. Karena
kampus mempunyai sumber daya manusia. Kampus juga memproduksi para pendidik.
Kampus menjadi corong sekaligus laboratorium yang ada pengetahuannya, pengabdian
dan juga penelitian. Katong dorong ini agar kurikulum-kurikulum yang ada ke
depan bisa juga fokus kepada misi pendidikan perdamaian."
Alasannya, semangat multikulturalisme, justeru
sangat sensitif terhadap perdamaian dan rekonsiliasi. "Katong (kita_red) tersegredasi,
sehingga menjadi masalah yang cukup serius. Ini perlu dibicarakan pula muatan
perdamaian." Kata dia, dalam diskusi itu beberapa item sudah dimunculkan,
seperti memfokuskan pendidikan multikulturalisme di perguruan tinggi. Kata dia,
pendidikan perdamaian itu perlu dibumikan di setiap kegiatan yang ada di
kampus, mulai dari ruang kelas saat pembelajaran, bahkan harus diawali ketika
para mahasiswa menginjakkan kakinya di kampus. Bagi dia, kalau tidak bisa
dijadikan sebagai program studi pendidikan perdamaian, maka cukup diprogramkan
ke dalam kurikulum. Pasalnya, Maluku sampai hari ini masih tersegradasi dengan
persoalan-persoalan kriminal, yang juteru menjadi jurang pemicu keretakan
hubungan persaudaraan masyarakat di daerah ini. Maka lewat kegiatan ini, para
pimpinan perguruan tinggi bisa mengkonsepkan metode pendidikan perdamaian.
"Judulnya juga tidak mesti perdamaian, tapi cukup multikulturalisme,
kearifan, apa saja, asal terintegrasi. Sehingga bisa ke semua prodi. Atau boleh
juga dalam bentuk workshop, sehingga para dosen bisa berubah paradigma
berfikirnya, bisa juga dibawa ke OPAK, sehingga benar-benar berorientasi kepada
perdamaian." Kata dia, sampai saat ini sudah banyak model perdamaian yang
dilakukan dari berbagai lembaga maupun organisasi peduli perdamaian. Hanya
saja, semua itu belum diformat menjadi metode yang aktif bisa digunakan kapan
saja.
"Kita sampai saat ini belum punya teori sebagai bahan pegangan.
Banyak kegiatan perdamaian, namun soal teori kita masih minim. Nah persoalan
ini yang patut kita fikirkan bersama-sama." Alasan mengapa rektor, kata
dia, karena rektor memiliki kuasa di setiap perguruan tinggi. Lewat tangan
rektor, kebijakan bisa dibuat dan dilaksanakan, jelas dia, mengakhiri. ***(Red)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar